Sekadau Asal Usulnya 2 Versi

Sekadau, Sungai Sekadau, adau, staken, kecuai, de Sai. Ayoung Tao, Yakob Markan, Paulus Subarno

 

Muara Sungai Sekadau pada ketika ini tempat tumbuh pohon-pohon adau di masa lampau dan lokus cerita pernah ditancapkannya staken atau kecuai Ndai Abang.


Sekadau asal usulnya jika kita telusuri, terdapat dua versi. 

Pertama, Sekadau dihikayatkan entah sejak bila, berasal dari nama kayu tanaman keras yang tumbuh dengan subur dan bedakah (banyak) di sekitar muara Sungai Sekadau. 

Adapun Sungai Sekadau bermuara di badan Sungai Kapuas, yang merupakan Sungai terpanjang (1.143 km) bukan hanya di Kalimantan, melainkan di Indonesia. Dahulu kala, sungai Kapuas dikenal sebagai Batang Lawai.

Kayu adau ini banyak tumbuh di tepi sungai besar. Dahulu kala, adau banyak ditemukan di tepi Sungai Kapuas dan anak sungai Kapuas, termasuk sungai Sekadau. Kayu adau karena keras dan baik kualitasnya kemudian dijadikan sebagai bahan pembuat alat musik tradisional Dayak, sape karena sangat baik dan tahan tidak pecah. 

Titik muara Sungai Sekadau yang bertemu dengan badan Sungai Kapuas.
Sumber gambar: Google map.

Sungai Sekadau telah dikenal semasa migrasi ke-3 orang Iban. Tatkala kepala rombongan migrasi dari Batang Lawai (Sungai Kapuas) di Sukalanting menyusul saudaranya dari Tampun Juah. Pemimpin rombongan migrasi dikenal dengan pesaling (gelar) Ndai Abang yang asli namanya Balun Balunan. Hal ini dicatat Van Loon (1992: 5) berikut ini.

Tenslotte gingen ook wij op zoek naar een beter woongebied. Degenen die vóór ons waren weggetrokken, zouden tekens achterlaten om ons de weg te wijzen. Op de plaats waar de Sai uitmondt de Ketungau staken zijn een stok schuin in de river om aan te geven dat wij stroomopwarrts verder moesten trekken. Maar toen wij daar aankwamen, Had het zwaar geregend en de snelstromende rivier had de stok in de andere richting schuin gezet. Zozijn wij hier terecht gekomen en hebben wij kontakt met onze voorgangers verloren.

de Sai adalah sungai. Sedangkan "Ketungau staken" adalah tongkat yang menandai Sungai Ketungau yang dimaksudkan adalah Sungai Ketungau di wilayah Kabupaten Sintang pada waktu ini. Orang Dayak menandai sesuatu, pada waktu itu, dengan tanda kayu yang dipotong, lalu ditancapkan ke tanah. Sebagai homo symbolicus (manusia yang sarat simbol), orang Dayak saling mengetahui tanda dan petanda. Jika ada kayu yang ditancapkan mengarah ke suatu arah tertentu, maka di sana ada makna. Demikian staken, tongkat penanda, kecuai  Ndai Abang itu bekerja dalam bentuk komunikasi tanda.

Nah, karena banjir, kayu tongkat (staken) Ndai Abang yang dimaksudkan memberi tanda ke rombongan Ndai Abang, untuk melanjutkan migrasi ke hulu, jangan berbelok ke Sungai Sekadau. Oleh karena hujan turun deras, maka tongkat berbelok arah ke Sungai Sekadau. Orang Ketungau Tesaek menyebut staken ini: kecual Ndai Abang.

Rombongan yang terlanjur ke hulu menyusur Sungai Sekadau hendak mencari Sungai Ketungau, mengira tanda yang berbelok arah oleh banjir ini benar. Namun semakin ke hulu, sungai semakin sempit dan beraliran deras. Mereka menemukan sungai makin kecil ke hulu, berbatu-batu, dan banyak tumbuh perupuk (pandan liar)-nya.

Perpupuk, sejenis pandan liar. Tanda juga.
Menurut Yakob Markan, tetua Ketungau Tesaek seorang guru tahun 1970-an yang mendapat langsungnya kisahnya dari penuturan orang tua. Rombongan Ndai Abang menyadari "tesaek jalae ne" (tersesat perjalanan) ini ketika melihat air makin sempit dan deras sementara di sekitarnya banyak tumbuh perupuknya. Kisah turun temurun yang diketahui bahwa perupuk ini adalah tanaman yang banyak tumbuh di tebing/ dekat sungai kecil. Biasanya perupuk dijadikan bahan untuk menganyam atau membuat tikar.

Maka menjadi sadarlah rombongan pimpinan Ndai Abang bahwa ini bukan Sungai Ketungau yang dimaksudkan. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke muara sungai Sekadau, meneruskan perjalanan ke Sungai Ketungau, melalui Sungai Kapuas. Hal ini digambarkan dalam syair lagu "Ndai Abang": mudik Sekadau bebalik agikMereka terlanjur sesat perjalanan, telah mudik Sungai Sekadau, namun berbalik lagi ke muara untuk meneruskan perjalanan ke hulu Sungai Kapuas, menuju Sungai Ketungau yang dilukiskan sebagai "idaman ati". Tujuan migrasi rombongan yang dipimpin Ndai Abang adalah Sungai Ketungau di Sintang.

Namun, rombongan yang tidak sudi ikut Ndai Abang, menjadi: Ketungau Tesaek -de Dayak van Sekadau. Komunitas/ klan ini ditengarai populasinya sekitar 30.000. Komunitasnya di Sekadau dan sekitarnya dipimpin Ketua Perkumpulan Ayoung Tao, Drs. Paulus Subarno.

Pada masa ketika Ndai Abang memimpin migrasi dari Labai Lawai ditengarai, Lawai dan Sukadana di bawah feudatoti Adipati Unus, Raja Demak II. Jadi, peristiwanya terjadi sirka tahun 1518-1521. Dari penuturan orang tua (Yakob Markan) diketahui bahwa Ndai Abang dan rombongan ini "ngiga' tanah baru", migrasi atau mencari tanah baru karena didesak oleh pengaruh Demak yang menguasai Lawe (Sukadana) dan sekitarnya di tempat Ndai Abang dan pengikutnya telah lama membangun perkampungan. 

Versi kedua, Sekadau diduga berasal dari ungkapan keheranan masyarakat setempat jika melihat sesuau yang baru atau hal yang asing. Yang secara harfiah berarti "baru". Misalnya: baru' adau - baru lihat. Versi ini kurang populer dibandingkan versi yang pertama. Selain kurang populer, lebih sulit diterima dari sisi sejarah dan pembuktiannya. Sementara kisah dari mulut ke telinga yang beredar luas dan dikisahkan turun-temurun pun tidak terlampau luas dipercaya. Dari dialek mana "adau" yang bermakna "baru" ini?  Kiranya amat sulit untuk membuktikannya. 

Yakob Markan: pemangku cerita
migrasi  Ketungau Tesaek.
Akan tetapi, asal usul Sekadau yang banyak dianut dan dipercayai orang adalah berasal dari nama jenis kayu "batang adau" yang banyak tumbuh di sekitar muara sungai Sekadau.Bisa jadi "batang" di sini bukan mengacu ke batang pohon adau-nya yaitu bagian tumbuhan yang berada di atas tanah, melainkan batang/ betang pada pengertian zaman ketika itu berarti: sungai atau sei atau dalam khasanah pustaka kompeni Hindia Belanda disebut de Sai.

Tidak tertutup kemungkinan, karena banyak tumbuh kayu adau di sekitar sungai itu, batang dimaksudkan adalah sungai. Bandingkan ketika itu Kapuas disebut: Batang/ Betang Kapuas. 

Maka sangat masuk akal asal usul Sekadau dari Batang Sekadau, mengacu ke pengertian Sungai Sekadau sebab demikianlah "alam pikiran" di masa itu. Jadi, patut dikritisi, "batang" adau yang dimaksudkan bukan batang kayunya, melainkan mengacu ke Sungai Sekadau. Inilah sensus plenior (makna terdalam) studi inter-teks sejarah asal mula nama Sekadau. *)


LihatTutupKomentar
Cancel