Batu Tinggi dalam Sekadau

Batu Tinggi, Sekadau, Folksong Sekadau,
Pesona Batu Tinggi dalam Sungai Sekadau ketika musim kemarau.
Kredit foto: Dina Mariana/Hi!Pontianak 

Batu Tinggi dalam Sekadau.

Jangan menyebut Anda warga Sekadau jika tidak tahu dan hafal menyanyikan lagu rakyat Sekadau ini. 

Orang cerdik cendekia menyebut jenis lagu yang begini "Folksong", alias lagu rakyat. Mengapa lagu rakyat? Karena ia bisa dinikmati dan dinyanyikan oleh sesiapa saja. Di mana saja. Termasuk di kamar mandi.  

Sekadau menyimpan banyak kenangan. Bumi Lawang Kuwari seakan tak pernah lelah setiap waktu menebar rindu kepada setiap orang yang pernah menjejakkan kaki di wilayah yang dahulu di muara sungai yang memintas jantung kotanya itu ditumbuhi oleh pohon-pohon adau.

Ada syair lagu. Langgam Senganan. Kami tidak pernah menyebut penduduk yang bermukim di pesisir itu dengan "Melayu". Namun "Senganan", sebab asal usul kami sama. Yakni penduduk asli Borneo, yang kemudian memilih keyakinan sendiri setelah agama resmi negara ditetapkan Pemerintah. Secara genealogis, sama, tak berbeda. Dari tembawang (bekas perkampungan) di Sekadau dapat ditelusuri bahwa antara Dayak dan Senganan masih ada tembawang yang sama.

Maka lagu seperti judul narasi ini adalah milik semua warga Sekadau. 

Batu Tinggi Batu tinggi, batu tinggi dalam Sekadau
Nampak bila, nampak bila aik kemarau 
Aku tiduk, aku tiduk tengigau-ngigau 
Pandai ngonang, pandai ngonang abo di rantau

Batu Tinggi ini salah satu objek wisata alam Sekadau. Akan tetapi, sebagaimana namanya, hanya tampak (muncul) di musim kemarau saja. Sebab manakala air pasang, dan musim hujan, tidak kelihatan indah batunya. Pabila kemarau, berbondong bondong warga dari segenap penjuru ke sini menikmati indah pesona alamnya. Sungguh keindahan alam yang tiada duanya.

Pada masa yang lalu, Batu Tinggi ini hanyalah pemandangan biasa. Terutama era tahun 1980-2000. Hal itu sebab media belum memberitakan keindahan pesona alamnya. Namun begitu media sosial tumbuh menjamur, maka Batu Tinggi pun tersebar keindahan nama dan pesona alamnya ke mana-mana. Maka tak syak lagi, jika musim kemarau, datang ke sini orang-orang dari kota. Dari Sanggau, Sintang, Landak, Mempawah, Singkawang; bahkan juga Pontianak.

Pesona serta keindahan Batu Tinggi,bukan sekadar dalam lagu. Ia sungguh ada di alam nyata. Tidak percaya? Datang, silakan saksikan dengan mata kepala sendiri. Selain asyik merendam kaki di dalam air Sungai Sekadau, kita bisa menikmati keindahan matahari terbit dan tenggelam. 

Hal yang unik adalah di sekitar tebing sungai, masih banyak tumbuh pohon-pohon besar. Ada pohon-pohon bungur yang kokoh, kakinya sangat kuat mencengkeram tebing, dengan bunga warna ungu bertebaran di udara. Suatu pemandangan eksotik yang menarik. 

Daya tarik lain? Kita bisa naik sampan. Dayung sendiri betapa asyiknya. Bisa berkayuh hingga muara sungai Sekadau, masuk ke badan Sungai Kapuas.  Di mana di muara ini dahulu kala tertancap staken, kecuai, yang disebut "Kecuai Ndai Abang". Suatu legenda kisah migrasi orang Iban khususnya Ketungau Tesaek mengambil setting-nya di sini. Jika bertemu dengan tour guide yang paham, kita mendapat banyak manfaat dari wisata alam ini. 

Kita juga menikmati wisata sejarah, sembari membayangkan kisah migrasi orang Iban yang ke-3, menyusuri sungai Sekadau. Yang syahdan kisahnya setelah menyadari sesat jalan, lalu berbalik lagi tatkala di hulu sungai ini bertemu perupuk dan sungai yang semakin dangkal banyak batunya.

Pesona Batu Tinggi dalam Sekadau dan sekitarnya: wisata sampan.

Hanya batu. Cuma batu yang tampak. Tapi Batu Tinggi ini di musim kemarau, menebar pemandangan yang eksotik. Jika diindonesiakan, beginilah makna syair lagunya:

Batu Tinggi Batu tinggi, batu tinggi dalam sungai Sekadau
Nampak bila, nampak bila musim kemarau
Aku tidur, aku tidur mengigau-ngigau 
Karena rindu, sungguh rindu  abang di rantau

Ah, syair yang bukan saja indah, melainkan juga dalam. Bisa jadi bahan kajian skripsi mahasiswa, terutama jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia untuk topik penelitian. Analisis konten. Lalu lihat konteksnya di masa lagu itu diciptakan. Mungkin saja sang penciptanya N.N. (no name alias tidak diketahui). Namun, belakangan di Youtube, kita menemukan ada tertulis penciptanya Lukman Nul Hakim dengan pelantun lagunya bernama : Ida Ariefaty. Keindahan syair dan pesona lagunya dapat dinikmati di sini: https://www.google.com/search?q=Batu+tinggi+dalam+sekadau+ida+ariefatu+youtube&oq=Batu+tinggi+dalam+sekadau+ida+ariefatu+youtube&aqs=chrome..69i57j0i546.11619j0j15&sourceid=chrome&ie=UTF-8#fpstate=ive&vld=cid:69a13522,vid:T88jjindibk

Di sana letak Batu Tinggi dalam Sungai Sekadau bila tidak kemarau.

Benar-benar khas langgam "r", yang dipersenandungkan oleh Ida. Sekadau bingits. Para penyanyi latar pun, berbagai. Bukan hanya Senganan, melainkan busana Dayak pun hadir di sana.

Kiranya tak perlu kita perdebatkan siapa sang pencipta. Mengapa? Sebab kini "Batu Tinggi dalam Sekadau" telah menjadi lagu rakyat. Maka jadi milik kita semuanya.

Saya senantiasa tak pernah alpa mampir di Batu Tinggi ini, manakala ada kesempatan ke Sekadau. Semacam de javu. Mengenang kembali kisah kasih di sekolah, tatkala era 1980-an melewatkan masa remaja di kota kenangan ini, bersama sahabat-dekatku, Musa Narang. 

Kiranya kita punya masing-masing kisah kasih di sekolah. Yang pastinya kadang sering muncul kembali dalam alam bawah sadar. Ah, kayak nggak tahu aja! Bukankah setiap dari kita, punya yang namanya "Johari Windows"? Yakni bagian sisi paling rahasia hidup, yang hanya kita dan Tuhan saja yang tahu? *)

LihatTutupKomentar
Cancel