Jejak Tapak Bungai Nuing di Sentarum, Perbatasan Malaysia

Sentarum, Kapuas Hulu, Batang Lupar, Sri Aman
Jejak tapak kaki Bungai Nuing, pangan Keling di Sentarum.

SEKADAU NEWs : Orang Sekadau, Sintang, Putussibau, dan Simanggang (Sri Aman) sama-sama Iban. Jadi, mereka punya legenda dan kisah yang sama. Dewa dan dewi Iban, Keling dan Kumang adalah tokoh utama. 

Namun, ada tokoh lain, yang disebut "pangan". Yakni sahabat-sahabat, orang dekat. Yang membantu dalam pemerintahan Buah Main. Salah satunya, orang terkuat, dan punya banyak pengaroh, yakni Bungai Nuing.

Dipercaya tokoh ini saktimandraguna. Bungai Nuing. Salah satu legenda suku bangsa Iban. Jejak tapak bekas kakinya saja segitu besar. Dan tergambar dengan jelas di atas sebongkah batu. Bagaimana dengan orangnya? Sekuat apa dia?

PAGI itu gerimis titis. Hujan jatuh dari talang-talang langit Sungai Utik. Apai Janggut pamit, tak bisa ikut ke situs Bungai Nuing yang lokasinya sebenarnya tak jauh dari Sungai Utik karena ada keperluan. Untuk ekspedisi tapak-tilas dan susur-sejarah itu, Apai mengutus Joni Vercelly, calon kuat penerusnya. Ditemani Adilbertus Aco, kami naik mobil menuju jejak-tapak Bungai Nuing. 

Baca Upacara Bedara' Tandai Penancapan Tiang Pertama Institut Teknologi Keling Kumang

Dari Sungai Utik, kami naik mobil. Untuk mencapai lokus, sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil.  Tidak jauh dari Danau Sentarum, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Sebah telaga nan indah dengan aneka ikannya yang terkenal lezat memendar pesona. Terang, kuning keemasan dilihat dari kejauhan.

Lokus jejak-tapak Bungai Nuing, tak jauh dari situ.

Bungai Nuing kerap dikisahkan dalam ensera Keling. Ia seorang gagah perkasa. Dewa perang suku bansa Iban, yang melindungi dari serangan remaong.

Orang Iban terkenal dengan kekayaan sastra lisannya. Buah Kana. Sebagian besar telah pun dituliskan. Namun, lebih banyak masih berupa tacit knowledge. Salah satunya, kisah mengenai Bungai Nuing, yang dipertuturkan dari mulut ke telinga. Generasi ke generasi tentu semakin susut kadar santannya, seperti permainan kita dahulu di dalam "menyampaikan pesan berantai", bisa berbeda dari sumber pertama ke sumber terakhir.

Google map yang menunjukkan kedekatan geografis Engklili, Lubuk Antu, dan Simanggang - sebagai asal usul orang Iban migrasi dari Tampun Juah.

Malam harinya, di rumah rumah panjai Sungai Utik. Ditemani air tuak, Apai Janggut berkisah. 

Bungai Nuing, yang kerap dikisahkan dalam ensera Keling, seorang gagah perkasa, dewa perang suku bansa Iban, yang melindungi dari serangan remaong. Ini jejak-tapak kakinya ketika berburu, menjejak di atas sebilah batu di ranah Batang Lupar, tak jauh dari Danau Sentarum, Putussibau.

Sejarah, legenda, mitos, ataukah epos; tak jadi perkara. Sebab memang mendekati sejarah yang ada: tokoh, peristiwa, dan seting (waktu dan tempat). “Seperti kulit terong. Tipis sekali bedanya. Namun kami, orang Iban, menganggapnya sungguh ada,” terang Apai Janggut.

Bahwa punya cerita yang sama orang Iban Indonesia dan Malaysia, terutama Sarawak, itu biasa. Mereka sama-sama mengaku nenek moyang, satu asal dari Tampun Juah, tanah semula jadi. 

Baca Batu Tinggi: Magis Dan Pesona Muara Sungai Sekadau

Juga dibantu visualisasi Google map, yang menunjukkan kedekatan geografis Engklili, Lubuk Antu, dan Simanggang - sebagai asal usul orang Iban migrasi dari Tampun Juah. Sejarah ini tak terbantah. Bahkan lepas dari kisah ini, dianggap tidak pakem, dan tidak benar.

Malam menggaris kelam. Gulita membekap menoa yang dahulu kala, seturut sejarahnya, dihibahkan orang Embaloh kepada orang Iban. Serangga malam membunyikan seruling dan rebana. Sahut-sahutan sebagai sebuah simfoni. Di ruai, depan bilik Apai Janggut, beberapa pria masih duduk bersila, membentuk lingkaran. Air nira yang telah difermentasi antara manis dan asam, masih setia menemani.

Apa Janggut berkisah lancar. Siapa sebenarnya Bungai Nuing?

Nuing dihikayatkan berasal dari Pangau Libau (khayangan) dan siap dipanggil berperang membantu suku Iban. 

Baca Jalan Keling Kumang, Sekadau

Tiga hari berlalu sejak Kumang melepas bayinya ke hutan. Itu memang bukan kehendaknya sebab ia mendapat petunjuk lewat mimpi. Namun, sungguh Kumang merasa amat menyesal. Hati kecilnya terus menggelitik. Ia ingin melihat, sekaligus mengetahui kondisi bayi itu.

Maka pagi-pagi buta Kumang pergi sendiri ke tempat semula ia membuang bayinya. Perlahan ia melangkah. Perasaannya benar-benar kacau. Jantungnya berdetak tak menentu.

“Ehm!” ia merasa sedikit lega ketika melihat bahwa kain lampin berwarna putih masih ada di antara bandir-bandir tapang. Syukur, masih ada di situ. Hatinya merasa sedikit lega.

Namun, semakin dekat, Kumang merasa jantungnya berhenti berdetak. Kain lampin ada. Tapi…. Ke mana bayi itu? Tidak ada tanda-tanda dimangsa binatang buas. Tidak pula ada indikasi ke arah mutilasi. Lalu ke mana?

Tidak begitu jauh dari ujung hutan rimba itu terdapat sebuah kampung. Dan di kampung itu ada sepasang suami istri yang telah lama menikah, tapi belum juga dikaruniai anak.

Di tengah-tengah asyiknya mengumpulkan kayu bakar di hutan untuk dibawa pulang sebagai bahan bakar alami, suami istri itu mendengar tangisan. Mereka bergegas mencari sumber suara. Nama suami istri yang mandul itu adalah Bungai Nuing dan Punggak Lanjan.

“Aduuh, kasihan!” kata Punggak. “Kita pungut lalu angkat jadi anak.” Betapa sukacita hatinya. Seperti seorang ibu hamil mendapatkan idaman.

“Ya, meski rupanya kurang sempurna seperti manusia, kita wajib bersyukur. Petara mengendakinya jadi anak kita,” jawab Bungai Nuing. Keduanya berganti-ganti menggendong anak itu. Lalu membawanya pulang. Pada ilustrasi dapat disaksikan aktris Holywood memerankan Kumang ketika dengan sangat terpaksa (dan blessing in disguisse) "membuang"  sang bayi ke hutan. Akting dalam film "The Sleeping Dictionary."

Sejak saat itu, suami istri itu memelihara dan membesarkan si anak buangan karena kompunan ibunya. Mereka menamainya: Ayor. Karena rupanya berbeda dengan manusia, ditambahi: Menyarung. Sehingga lengkap nama anak itu adalah Ayor Menyarung. Dengan harapan, suatu ketika kelak kemudian hari ia keluar dari sarung buruknya, menjadi manusia tampan lagi sakti mandraguna.

Ayor tumbuh sebagai anak sakti mandraguna dan luar biasa. Ia terampil bepangka gasing. Ia juga selalu menang dalam berbagai lomba yang diadakan setiap kali gawai padi. Yang paling membuatnya disukai ialah Ayor berhati mulia, jujur, dan suka menolong.

Anak itu juga terampil memainkan alat musik sape, tarian adat, dan pencak silat. Tidak satu pun anak di kampung itu yang bisa menandingi kebolehan dan kesaktiannya.

Hal itu membuat orang kampung heran dan bertanya: dari mana gerangan Ayor mendapat kesaktian dan keluarbiasaan seperti itu? (Rangkaya Bada)

LihatTutupKomentar
Cancel