Upacara Bedara' Tandai Penancapan Tiang Pertama Institut Teknologi Keling Kumang

Bedara', Institut Teknologi Keling Kumang, Sekadau, Apai Janggut, Musa Narang, Stefanus Masiun, Penanjung
Apai Janggut memimpin upacara Bedara'

Tak jauh dari jembatan Penanjung, Sekadau. Ke sana sedikit jalan Sintang, sebelum masuk kompleks Kantor Bupati. 

Di sana tegak sebuah bangunan. Kampus utama Institut Teknologi (ITKK) Keling Kumang. Yang peletakan batu pertamanya diadakan dengan upacara adat setempat, bedara'. 

Berdara' adalah suatu tradisi adat budaya yakni upacara adat di kalangan suku bangsa Iban. Terutama, tradisi berdara' ini hidup di kalangan suku bangsa ibanik di Kalimantan Barat. Itulah yang terjadi dan kita saksikan di lokus pendirian gedung rektorat Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK) di Sekadau. Lokus gedung rektorat baru ITKK, dan kampusnya, dibangun di areal sekitar 5 hektare. 

Di Jalan Sekadau-Sintang, sepelempar batu dari jembatan Penanjung, Sungai Sekadau. ITKK adalah perguruan tinggi pertama dan satu-satunya di Kabupaten Sekadau. Dengan jumlah mahasiswa hingga tahun kedua beroperasi mendekati 300 mahasiswa; ke depannya diproyeksikan berbanding lurus setidaknya 10% dari total jumlah lulusan SLTA di kabupaten Sekadau yang setiap tahunnya meluluskan 7.000 siswa. 

Upacara adat bandara' itu diadakan pada tanggal 20 Mei 2022, diikuti oleh seluruh petinggi, staf, dan anggota keluarga besar gerakan Keling Kumang. Adapun ketua adat datang dari sungai Utik, Apai Janggut yang dianggap sebagai "bapak rohani" gerakan Keling Kumang ini. 

Sudah menjadi kebiasaan di lingkungan gerakan pemberdayaan ekonomi kerakyatan Keling Kumang di Kalimantan Barat terutama di Sekadau, Sintang, dan Kapuas Hulu bahwa setiap ada upacara besar misalnya peletakan batu pertama diadakan upacara bendera. Upacara tersebut boleh dikatakan sebagai kearifan lokal masyarakat setempat. 

Institut Teknologi Keling Kumang sebagai salah satu perguruan tinggi satu-satunya di kabupaten Sekadau, menunjukkan kepada masyarakat sesuai dengan visi misinya dari Sekadau untuk bangsa. Bahwa apa pun yang dilakukan, diawali dengan upacara adat. Upacara adat ini apabila dilihat dari kacamata pandangan Gereja bukan berarti okultisme. Akan tetapi, sesuai dengan jiwa Konsili Vatikan II, yakni Dokumen Lumen Gentium dan Ad Gentes bahwa Gereja hadir menghadirkan Kristus yang nyata ke dunia, Allah Bapa dan Allah Roh Kudus yang abstrak menjadi nyata, sesuai dengan konsep alam nyata dan budaya masyarakat setempat. 

Demikianlah inkulturasi itu terjadi. Oleh karena itu, kalau setiap ada kegiatan akademik atau kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan ITKK, senantiasa mengawalinya dengan upacara adat. Upacara adat ini selaras dengan iman Gereja. Yakni sebelum memulai karya-karya besar sebagaimana Yesus Kristus dahulu kala sebelum mulai karya-karya besar, selalu berdoa dan meminta restu kepada Allah bapa di surga. Agar semua yang dilakukan direstui dan berkenan kepada yang maha kuasa.

Itulah tadi yang kita saksikan di dalam ritual bedara'. Di mana hewan kurban sembelihan ayam dan babi, itu adalah bukti bahwa kita memberikan yang terbaik kepada Sang Pencipta Langit dan bumi. Hal yang kita lakukan itu adalah suatu bukti nyata bahwa kita memberikan yang terbaik kepada pencipta langit dan bumi. Akan tetapi, daging dan hati babi yang dianggap sebagai hati itu adalah intisari dari kehidupan. Apai Janggut sebagai ketua adat dan bapak rohani dan pegiat lingkungan diminta untuk melihat apakah yang ditandakan dari hati babi tersebut, ternyata hasilnya sangat bagus.

Apai Janggut melihat apa yang tak tampak.

Apai Janggut memimpin upacara Bedara'. Dari hasil yang dilihat di tengarai bahwa semuanya baik adanya, meski ada sedikit luka di bagian hati itu menunjukkan bahwa kekuatan buruk kekuatan-kekuatan yang tidak baik itu akan dikalahkan invictus sesuai dengan motto dari Gerakan CU Keling Kumang. 

ITKK dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sekadau 
Seperti diketahui Institut Teknologi Keling Kumang saat ini memasuki tahun yang kedua. 

Menurut Rektor ITKK, sekaligus Ketua Pengurus CU Keling Kumang, Dr. Drs. St. Masiun, "Sebagian besar mahasiswa adalah putra-putri terbaik dari Kalimantan Barat, terutama siswa-siswa tamatan dari kabupaten Sekadau Sanggau, Sintang, dan Kapuas Hulu. Akan tetapi, mahasiswa ITKK juga menerima aktivis dan anggota CUKK sebanyak 60 mahasiswa. Diharapkan tahun yang kedua mahasiswa ITKK berjumlah 200 mahasiswa."                          

Ketua Yayasan Pendidikan Keling Kumang (YPKK), Musa Narang membeberkan bahwa Gedung Rektorat ITKK dasarnya dibangun dari partisipasi anggota CUKK yang saat ini berjumlah 207.000. 

Ia memberi nama gerakan partisipasi untuk membangun gedung Rektorat, yang direncanakan 3 lantai, "G-20". "Ge singkatan dari gerakan. Sedangkan 20 adalah nilai rupiah yang diharapkan masuk, dan diterima Panitia. Sehingga 207.000 x Rp20.000, diharapkan cukup untuk membangun pondasi gedung Rektorat," terang Musa sembari menjelaskan bahwa makna dari pondasi dan partisipasi anggota Gerakan CUKK ini sangat dalam. 

“Kini IPM Sekadau nomor dua dari belakang dari empat belas kabupaten/kota. Jelas ini sangat jauh dari ideal,” papar Drs. Dr. Stefanus Masiun, S.E., Rektor Institut Teknologi Keling Kumang.

Ia mengimbuhi bahwa, “Hadirnya ITKK akan mempercepat peningkatan IPM itu.” Sebenarnya, IPM Sekadau yang masih bercokol di “papan bontot” itu, suatu hal yang bisa dijelaskan tidak murni benar-benar indek manusianya rendah. 

Mengapa demikian? Sebab banyak jumlah orang yang lahir dan berasal dari Sekadau yang terpelajar domisili atau pencatatan jiwanya di luar kabupaten Sekadau. Sedemikian rupa, sehingga orang Sekadau yang terpelajar dan terdidik tadi tidak terindeks apalagi memberikan sumbangan kepada peningkatan IPM Sekadau. 

“Nantinya, mungkin setelah ada lulusan, ITKK akan menyumbangkan kepada , IPM Sekadau yang signifikan,” terang Masiun. Dalam upaya mendorong serta meningkatkan IPM Sekadau, ITKK memfasilitasi anggota Gerakan CU Keling Kumang untuk kuliah dan menjadi sarjana. Masiun yang saat ini memangku amanah sebagai Ketua Pengurus CU Keling Kumang memberikan fasilitas khusus kepada anggota untuk berkuliah di ITKK. 
Stefanus Masiun, Rektor ITKK.

“Saat ini sebanyak 108 anggota Gerakan CU Keling Kumang berkuliah di ITKK. Hadirnya ITKK, pada awalnya, adalah amanah dari anggota. Anggota menyepakati agar setiap keluarga satu sarjana,” kata Rektor ITKK. 

Masiun selanjutnya memaparkan gambar besar ITKK ke depan. “Kita telah membangun kampus mandiri. Strategis letaknya di bilangan Penanjung, jalan raya Sekadau – Sintang. 
                        .
Di atas tanah seluas 4,2 hektar. Dengan harapan bahwa warga Sekadau kuliah di sini. Mengapa harus kuliah di tempat lain jika jurusan dan kompetensi lulusan ada di sini. Selain peredaran uang karena konsumsi dan belanja tidak keluar daerah, dengan adanya ITKK akan meningkatkan IPM dan mengakselerasi sektor-sektor ekonomi dan sosial yang lain.”
Tamu dari Malaysia mengunjungi kampus utama ITKK didampingi Musa Narang, ketua Yayasan Pendidikan Keling Kumang (3 dari kiri)

Dicontohkannya bahwa sektor ekonomi seperti tempat tinggal, pemondokan, kos, konsumsi dan belanja mahasiswa akan mengakselerasi serta menumbuhkan ekonomi setempat. Pun demikian di bidang lain, seperti kesehatan. Apabila mahasiswa semakin banyak kuliah di ITKK, maka bukan hanya IPM Sekadau yang naik, melainkan ekonomi dan sosialnya juga berkualitas. 
Dengan demikian, kehadiran suatu perguruan tinggi mempunyai efek berguling. Masiun yang juga ketua pengurus CU Keling Kumang, mencanangkan ITKK mewujudkan amanah anggota, yakni satu keluarga, satu sarjana. 

Dengan mengusung nilai-nilai inti “Invictus” (kependekan dari Integrity, Network, Value creation, Innovation, Credibility, Togetherness, Unity, Speed), ITKK menjadi entitas dari GKCU sebagai konglomerasi sosial-ekonomi kebanggaan bangsa dengan misi “Kalimantan tanpa kemiskinan” .*
LihatTutupKomentar
Cancel